Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2012

Tidur Pakai Bra, Awas Membahayakan



Benarkah pemakaian bra saat tidur bisa memicu munculnya kanker payudara?
“Nggak betul itu, tidak ada hubungan antara mengenakan bra saat tidur dengan munculnya kanker payudara,” kata dr. Febriansyah, SpOG., yang berpraktik di RSIA Kemang Medical Care, Kemang, Jakarta Selatan. Menurut dia, wanita boleh saja mengenakan bra saat tidur.

“Asalkan pilih bra yang tidak berkawat, karena model bra seperti ini membuat payudara tertekan. Akibatnya, aliran darah tidak lancar dan ini akan memengaruhi kesehatannya,” kata dr. Febriansyah.

Idealnya, lanjut Febriansyah, saat tidur memang sebaiknya tidak mengenakan pakaian dalam agar aliran darah bisa lebih lancar, tubuh menjadi lebih rileks, dan saat bangun tidur tubuh terasa lebih bugar.

“Kalau payudara tertekan, bra akan menghambat aliran darah sehingga menimbulkan beberapa masalah, misalnya merasa pegal dan sakit,” tambahnya.

Sama halnya dengan pria. Kata dia, informasi yang menyebut pria mengenakan celana dalam saat tidur bisa menyebabkan kemandulan itu tidak benar.
“Yang pasti, pria sebaiknya tidak mengenakan celana dalam ketat saat tidur. Sama saja tujuannya supaya tidak ada tekanan pada alat kelamin dan aliran darah lancar,” katanya.

Pria boleh saja mengenakan celana saat tidur, tapi pilihlah model celana longgar misalnya celana boxer. Baik pria maupun wanita, tidur hendaknya mengenakan pakaian longgar atau tidak terlalu ketat.

“Wanita yang mengenakan celana dalam terlalu ketat, sirkulasi udara pada vaginanya bisa terganggu. Hal ini dapat menimbulkan masalah keputihan,” kata Febriansyah.

Selain harus longgar, lanjutnya, hendaknya pria maupun wanita mengenakan pakaian yang mampu menyerap keringat. Sebab, di saat tidur, tubuh kita berkeringat. “Jangan mengenakan pakaian berbahan polyester karena bahan ini tidak menyerap keringat.

Senin, 23 Juli 2012

Budaya Barat yang Mematikan

Add caption
Menjamurnya restoran siap saji menjanjikan risiko penyakit yang mengintai Anda.


Budaya Barat, terutama junk food, dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes dan lebih mungkin untuk meninggal akibat penyakit jantung untuk masyarakat Timur.

Temuan dalam journal Circulation ini merupakan hasil dari sebuah riset terhadap 60.000 warga Singapura selama satu dekade.

Menurut peneliti dari University of Minnesota School laporan Public Health, ingin mengetahui telah terjadi perubahan pola makan mereka dari tradisional dan makanan segar, menjadi ke makanan cepat saji ala Barat.

Orang yang makan makanan cepat saji sebanyak dua kali atau lebih dalam seminggu memiliki kemungkinan 27 persen lebih besar mengembangkan risiko diabetes dan 56 persen risiko kematian lebih tinggi dari penyakit jantung.

Bahkan, mereka yang rutin menyantap makanan cepat saji sebanyak empat kali atau lebih memiliki peningkatan risiko menjadi 80 persen terhadap kematian akibat penyakit jantung.

"Banyak budaya Barat (junk food) yang berdatangan itu menjadi tanda mereka sedang mengembangkan ekonominya," ungkap ketua peneliti kata Andrew Odegaard dilansir melalui Reuters (23/7).

"Yang menarik dari hasil penelitian ini adalah mereka yang sering makan makanan cepat saji adalah anak muda, lebih berpendidikan, tidak merokok dan aktif secara fisik. Harusnya, hal ini dikaitkan dengan rendahnya risiko cardio-metabolik," tambahnya.